03 Februari 2009

PLAY THERAPY: Intervensi Konseling yang Tepat untuk Klien Anak-Anak

Di zaman seperti sekarang ini, setiap individu dituntut untuk mampu eksis dalam per-saingan global. Untuk mengaktualisasikan eksistensi itu tidak terjadi dengan begitu saja, tetapi diperlukan bekal kemampuan dan kecer-dasan yang multidimensional. Kecerdasan dalam dimensi yang luas tersebut hanya akan berkembang jika mendapatkan sentuhan bim-bingan yang memadai, dan dimulai sejak manusia masih dalam usia dini. Bimbingan dan konseling dalam dunia Pendidikan Anak Usia Dini mempunyai visi edukatif, pengembangan dan outreach. Visi edukatif bermakna sebagai sebuah proses bimbingan yang menitikberatkan pada persoalan pencegahan dan pengembangan. Pengembang-an dalam hal ini bisa dimaknai pengembangan segenap kemampuan dan potensi yang dimiliki anak. Pelaksanaan bimbingan, dalam praktek-nya akan bisa berjalan dengan baik jika dalam proses awalnya konselor mampu menciptakan hubungan rapport dengan anak. Sementara itu hubungan akan terjalin dengan baik jika konselor mampu bisa masuk dalam dunia anak, yaitu bermain. Itulah sebabnya, praktek konseling harus menggunakan media bermain sebagai sarana bimbingan. Proses bimbingan yang menggunakan bermain sebagai sarana terapi dalam membantu klien yang memerlukan bantuan dinamakan Play Therapy. 1. Pengertian Play Therapy The Association for Play Therapy (1997) mendefinikasn Play Therapy sebagai berikut: “The systematic use of a theoretical model to establish an interpersonal process where in trained play therapists use the therapeutic powers of play to help clients prevent or resolve psychosocial difficulties and achieve optimal growth and development”. Berdasarkan pengertian tersebut kita mendapatkan beberapa konsep pokok sebagai landasan Play Therapy. Pertama, Play Therapy dibangun berdasarkan pondasi teoritik yang sistematis. Dalam kaitan ini, Play Therapy dibangun berdasarkan berbagai teori psikologi dan konseling yang telah mapan, seperti teori teori psikoanalisis, Clien-Centered, Gestalt, Cognitif-behavior, Adlerian dan sebagainya. Bagaimana konstruks dan pelaksanaan teori tersebut dalam konteks Play Therapy dijelaskan dalam bagian lain. Kedua, Play Therapy menekankan pada kekuatan permainan sebagai alat untuk membantu klien yang memerlukan bantuan. Ketiga, tujuan dari penggunaan Play Therapy adalah untuk membantu klien dalam rangka mencegah dan mengatasi persoalan psikologisnya serta membantu perncapaian pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan tugas perkembangannya secara optimal. Sehubungan hal tersebut, Cattanach (Thompson at. al, 2004: 407) mengemukakan beberapa konsep dasar play therapy. Menurut Cattanach, play therapy disusun berdasarkan empat konsep dasar, yaitu: 1. bermain adalah cara anak dalam memahami dunia anak, 2. aspek perkembangan dalam kegiatan berma-in merupakan cara anak dalam menemukan dan mengeksplorasi identitas diri mereka, 3. anak dapat melakukan eksperimen dengan berbagai pilihan imajinatif dan terhindar dari konsekuensi seperti ketika di dunai nyata, 4. permainan pada situasi dan kondisi yang tepat dapat bermakna sebagai kegiatan fisik sekaligus sebagai terapi. Penggunaan permainan dalam konseling anak dilakukan dengan berbagai alasan. Virginia Axline (1947), dalam buku klasiknya, Play Therapy: The In¬ner Dynamics of Childhood, sebagaimana diungkapkan oleh Thompson at al, (2004: 407) penggunaan Play Therapy dilakukan dengan alasan bahwa bermain adalah media yang alami yang digunakan anak untuk mengungkapkan diri. Penulis yang lain seperti Landreth (1991); Moustakas (1998); Schaefer (1993), menyebut-kan bermain sebagai bahasa simbolik anak yang alami untuk menyatakan emosi dan pengalaman sehari-hari, bahkan bermain adalah proses penyembuhan diri anak (Thompson at al, 2004: 407). Sementara itu, Ginon (1994: 33) menyebutkan: "A child's play is his talk and toys are his words," Dengan demikian, bermain dapat membantu upaya menjalin hubungan dengan anak, membangun konsentrasi anak, meningkat-kan kesehatan dan perkembangan anak. Banyak keuntungan yang didapat dalam penggunaan Play Therapy. Kottman (2001) merangkum dari berbagai sumber tiga keuntung-an penggunaan play therapy: a. Membantu proses perkembangan anak, dengan interaksi verbal yang minimal (Albon,1996). b. Anak mendapatkan banyak kebebasan untuk memilih; mampu meningkatkat daya fantasi dan imajinasi anak; dapat menggu-nakan alat-alat yang sederhana; memberi-kan tempat yang aman bagi anak untuk mengeluarkan perasaan, mendapatkan pemahaman dan melakukan berbagai perubahan (Bradley & Gould, 1993). c. Memudahkan konselor untuk membangun hubungan dengan anak, juga dalam melatih keterampilan sosial anal (Kottman, 2001). Sementara itu, The Association for Play Therapy (1997) mengidentifikasi 14 keuntungan penggunaan Play Therapy pada proses konseling anak sebagai berikut: a. Mengatasi resistensi. Anak-anak biasanya sulit untuk diajak konsultasi dengan konselor, apalagi mempunyai keingininan sendiri. Permainan adalah salah satu cara untuk menarik anak agar bisa terlibat dalam kegiatan konseling. b. Komunikasi. Permainan adalah media alami yang digunakan anak untuk mengekspresikan dirinya. Konselor bisa menggunakan berbagai pilihan permainan yang dapat memancing anak keterlibatan anak. c. Kompetensi. Bermain memberikan kesempatan bagi anak untuk memenuhi kebutuhan anak untuk mengeksplorasi dan menguasai sesuatu. Konselor bisa membangun kepercayaan dengan menunjukkan bahwa anak sedang melakukan kerja keras dan menunjukkan kemajuan. d. Berfikir kreatif. Keterampilan problem-solving dikembangkan, sehingga pemecahan atas persoalan anak bisa dicapai. Permainan memberikan peluang yang besar bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif atas persoalan yang dialami. e. Catharsis. Lewat permainan anak-anak dapat menyampaikan tekanan emosinya dengan bebas, sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal tanpa beban mental. f. Abreaction. Dalam bermain, anak medapat kesempatan untuk memproses dan menye-suaikan kesulitan yang pernah dialami secara simbolis dengan ekspresi emosi yang tepat. g. Role Playing. Anak dapat mempraktekkan berbagai tingkah laku yang baru dan mengembangkan kemampuan empati dengan orang lain. h. Fantasi. Anak-anak dapt menggunakan imajina-sinya untuk mengerti akan pengalamannya yang menyakitkan. Mereka juga bisa mencoba mengubah hidup mereka secara perlahan. i. Metaphoric teaching. Anak-anak dapt mempe-roleh pengertian yang mendalam atas kesulitan dan ketakutan yang dialaminya dengan kiasan yang ditimbulkan dalam permainan. j. Attachment formation. Anak dapat mengem-bangkan suatu ikatan dengan konselor serta mengembangkan kemampuan untuk memba-ngun koneksi dengan orang lain. k. Peningkatan hubungan. Bermain meningkat-kan hubungan terapi positif, memberikan kebebasan anak untuk mewujudkan aktualisasi diri dan tumbuh semakin dengan orang yang ada di sekelilingnya. Anak dapt mengenal cinta perhatian yang positif terhadap lingkungan. l. Emosi positif. Anak-anak menikmati permainan. Dengan suasana ini ia bisa tertawa dan mempunyai waktu yang menyenangkan di tempat yang mereka terima. m. Menguasai ketakutan. Dengan permainan yang diulang-ulang akan mengurangi kegelisahan dan ketakutan anak. Bekerja dengan mainan, seni dan media bermain lainnya mereka akan menemukan berbagai keterampilan dalam mengatasi ketakutan dan menjaga diri. n. Bermain game. Game membantu anak untuk bersosialisasi dan mengembangkan kekuatan egonya. Mereka mempunyai peluang untuk meningkatkan keterampilan berinteraksi. 2. Landasan Theoritis Play Therapy Sebagaimana definisi yang diberikan oleh The Association of Play Therapy, keberadaan play therapy merupakan penerapan secara sistematis beberapa taori konseling yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak dengan mengandalkan kekuatan permainan dalam terapi. Play therapy merupakan pendekatan konseling yang diturunkan dari beberapa teori konseling yang telah ada sebelumnya. a. Psychoanalitic Play Therapy Terapi psikoanalisis bertujuan untuk membentuk kembali struktur kepribadian individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada upaya menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman tersebut selanjutnya direkons-truksi dan dan dijadikan pijakan dalam mengatasi permasalahan klien. Orang pertama yang mengadaptasikan teori psikoanalisis dengan mengkolaborasi dengan permainan untuk melakukan terapi dengan anak-anak adalah Ana Freud (1926). Dia menggunakan permainan dan game untuk menarik anak, menjalin hubungan, dan untuk menemukan petunjuk tentang diri anak yang sebenarnya. Konselor melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan anak dapat mengemukakan kondisi psikologis yang dialaminya, seperti bermain bersama, bermain peran, atau memberikan kebebasan kepada anak untuk memainkan apa saja yang dia kehendaki. Dalam prakteknya, Ana Freud menggunakan permainan sebagai alat untuk meningkatkan hubungan dengan anak, juga sebagai alat diagnostik. Hal yang sama juga dilakukan oleh Melanie Klein (1932). Menurut Klein, permainan dapat digunakan untuk mengetahui keinginan, ketakutan dan fantasi anak. Baginya permainan adalah alat yang sangat efektif untuk menginterpretasikan bahasa simbolik yang disampaikan oleh anak melalui bahasa simbolik dalam sesi permainan (Thompson at al, 2004: 98). Permainan mempengaruhi terapi melalui berbagai jalan. Menurut Neubauer (Thompson at al, 2004: 99), permainan dapat mempengaruhi kegiatan mental, kesadaran atau ketidaksadaran, yang di dalamnya terdapat khayalan dan harapan. Permainan juga merupakan aktivitas fisik yang bisa diobservasi. Pendek kata, permainan adalah sebuah eksplorasi, sebuah sarana untuk menghidupkan kemauan untuk mencoba. Konselor berperan dalam hal menetapkan dan menjaga hubungan dengan anak, mengembangkan empati serta pemahaman. Dalam kerangka psykoanalitic play therapy, menurut Frankel (1998) permainan adalah proses awal, dalam rangka membangun hubungan dengan anak agar anak mampu mengungkapkan berbagai pengalaman masa lalunya yang tidak menyenangkan melalui pengintegrasian kemunculannya melalui bahasa simbol. Proses kedua adalah mengupayakan renegosiasi hubungan anak dengan dirinya dan orang lain. Dua proses tersebut dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan akhir dari terapi, yaitu untuk memecahkan fiksasi, regresi, kekurangan dalam perkembangan dan hambatan-hambatan lain yang mengganggu perkembangan anak. b. Client-Centered-Play Therapy Konsep pokok pendekatan konseling Client-Centerd adalah mengembangkan kemampuan dan kepercayaan diri klien dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Proses paling penting dalam terapi ini adalah bagaimana upaya konselor dalam membangun hubungan yang hangat, permisif, dan penerimaan yang dapat membuat klien untuk menjelajahi struktur kepribadiannya dalam rangka mengenali diri (self), pembentukan diri dan aktualisasi segenap potensi yang dimilikinya. Pribadi yang sehat adalah pribadi yang dapat berkembang penuh (the fully fungtioning self) dan dapat mengalami proses hidupnya dengan tanpa hambatan yang ditandai dengan terbuka pada pengalaman, menyadari setiap pengalaman secara penuh dan mempercayai pertimbangan dan pemilihan sendiri. Dalam kerangka Play Therapy, orang pertama yang melakukan adaptasi ini adalah Virginia Axline (1964) dalam bukunya Dibs: In Search of Self. Secara detil, penjelasan mengenai pendekatan child-centered menurut Thompson, at. al (2004: 174) dilakukan oleh Landreth (1993) dan Landreth dan Sweeney (1997). Model ini menurut mereka didasarkan pada kepercayaa pada keinginan bawaan anak untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri. Konselor memusatkan perhatiaannya pada kekuatan anak, merefleksikan perasaan anak, menjalin hubungan yang hangat, menerima dengan empati. Prinsip dasar dari cild-centered play therapy adalah sebagai berikut: (1) konselor mempunyai kepedulian yang murni, membangun hubungan yang hangat dan peduli, (2) konselor menerima anak dengan apa adanya, (3) konselor mempunyai jiwa melindungi dan memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan eksplorasi dan mengekspresikan keinginanya, (4) konselor selalu menjaga sensitivitas terhadap perasaan anak dan merefleksikannya melalui suatu cara untuk meningkatkan pemahaman diri anak, (5) konselor mempunyai kepercayaan penuh kepada kapasitas anak untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab dan memecahkan masalah pribadinya secara bebas, (6) konselor percaya kepada kemampuan dalam diri anak, membiarkan anak untuk banyak berperan dalam hubungan yang dibangunnya, (7) konselor tidak tergesa-gesa dalam melakukan terapi, (8) konselor memberikan bantuan/respon secara langsung kepada anak dengan sangat terbatas pada saat yang betul-betul mendesak (Axline, 1947; Landreth dan Sweeney, 1997 dalam Thompson at al, 2004:174). Konselor yang menggunakan pendekatan child-centerd play therapy harus memberikan perhatian secara penuh kepada anak dengan respon verbal yang melibatkan emosinya. Respon verbal yang bermuatan emosi tersebut, menurut Landreth (Thompson, 2004: 175) misalnya tampak melalui komunikasi verbal seperti: “Tenang saya di sini” (tidak akan ada yang mengganggumu), “Saya mendengarkanmu” (saya sedang mendengarkanmu dengan sungguh-sungguh), “Saya memahami kamu” atau “Saya peduli dengan kamu”. Tokoh lain, Moustakas (1998) menjelaskan bahwa penggunaan child-centered play therapi dapat dikaitkan dengan penggunaan permainan drama (bermain peran). Konseor dapat mempertunjukkan adegan yang menggambarkan penerimaan (acceptance), sikap mau menerima (receptiveness), dan keterbukaan (oppeness) bersamaan dengan keterampilan mendengarkan c. Gestalt Play Therapy Terapi Gestalt dibangun dengan konsep dasar bahwa manusia bukanlah semata-mata penjumlahan dari bagian-bagian atau organ-organ seperti jantung, hati, otak dan sebagainya. Manusia adalah satu kesatuan dari kerja koordinasi dari semua organ yang dimilikinya. Persoalan muncul manakala terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan keberadaan biologis yang membuat manusia lari dari kenyataan. Tujuan konseling difokuskan pada upaya membantu klien untuk dapat melalui transisi dari keadaan yang selalu dibantu pada keadaan mandiri (self support). Violet Oaklander (1969) menurut Kottman (1995: 183) adalah orang pertama yang mengadaptasikan teori terapi Gestalt dalam proses konseling dengan klien anak-anak dan remaja. Dalam buku klasiknya, Windows to Our Childrens, ia menjelaskan secara panjang lebar tentang tatacara menggunakan terapi Gestalt untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan. Bantuan ini dilakukan dengan jalan menggunakan kegiatan menggambar dan fantasi untuk menjalin interaksi dan mengeksplorasi perasaan. Selain kegiatan meng-gambar dan fantasi, ceritera, pusisi (sajak) dan boneka juga dapat digunakan sebagai sarana untuk memancing anak agar bisa menyatakan perasaan dan emosinya. Dari ungkapan ini konselor akan mengetahui apa sebenarnya yang dialami atau dirasakan oleh anak. Berdasarkan pengetahuan ini konselor bisa memberikan bantuan dengan cara mendorong anak untuk mampu menghadapi persoalan dengan membangkitkan semangat dan kepercayaan dirinya. d. Adlerian Play Therapy Terapi Adlerian dikenal dengan istilah konseling individual atau psikologi individual. Konsep pokoknya adalah bahwa perasaan seseorang merupakan kompensasi perasaan inferioritas (rendah diri). Oleh karena itu proses konseling bertujuan untuk menghilangkan perasaan inferioritas dan mengganti-kannya dengan perasaan superioritas. Strategi konseling yang digunakan melibatkan pola hidup sekarang dan menelusuri ke belakang hingga konseling dan klien memperoleh kejelasan mengenai tujuan superioritasnya. Dalam kaitan Play Therapy, Adlerian Play Therapy merupakan penggabungan teknik konseling Albert Adler dengan teknik play therapy. Dengan upaya penggabungan ini, Kottman (1995) telah membuktikan bahwa konselor sekolah yang telah dilatihnya sukses dalam menangani setiap persoalan muridnya. Itulah sebabnya, ia berkeyakinan bahwa teknik ini akan sangat bermanfaat jika dikembangkan dalam setting konseling sekolah. Dalam prakteknya, Adlerian Play Therapy menempuh empat tahapan konseling, yaitu: (1) membangun hubungan yang egaliter dengan anak, (2) mengeksplorasi gaya hidup anak, (3) membantu anak dalam mengatasi persoalan gaya hidupnya, dan (4) reorientasi atau reedukasi. Dalam tahap pertama konselor menggunakan gabungan teknik antara teknik dasar play therapy dengan teknik Adlerian dalam membangun hubungan yang sejajar antara konselor dan klien. Konselor selalu memberikan dorongan dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak dengan melibatkan diri secara aktif dalam permainan anak agar anak menaruh kepercayaan penuh dan terjalin hubungan yang penuh kehangatan (warm conection). Pada tahap kedua konselor mulai meng-gunakan strategi bertanya, teknik menggambar dan melakukan konsultasi dengan orang tua serta guru untuk mendapatkan pemahaman tentang gaya hidup anak serta karakteristik anak dalam memahami diri sendiri, keluarga dan lingkunagnnya. Selain itu juga untuk mendapat-kan gambaran terhadap situasi keluarga, apakah mendukung segenap potensi dirinya atau justru menjadi penghalang bagi anak dalam mengem-bangkan gaya hidup yang diinginkannya, kemudia bagaimana anak dalam merespon lingkungan keluarga tersebut; mencari perhatian, membuktikan kekuatan, membalas dendam atau membuktikan kekurangan.Tahap ketiga, konselor mulai mengambil hipotesis awal berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi, terurama tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan anak dengan menganalisis sesi permainan dan konsultasi dengan guru dan orang tua. Tujuan konseling tahap ini adalah untuk membantu anak memahami perasaannya, sikap, motivasi, pemi-kiran, dan perilaku. Setelah ini, konselor dapat juga mulai untuk membantu anak membuat keputusan tentang apa yang ingin ia ubah dan apa diterima sebagaimana adanya. 3. Microskills Play Therapy Para ahli konseling (Egan, 1998; Ivey, 1994) sebagaimana diungkapkan oleh Van Velsor (2004: 313) menekankan pentingnya mengguna-kan kemahiran keterampilan dasar sebagai landasan dalam konseling yang efektif. Untuk mendapatkan keterampilan dasar itu, Ivey (1994:12) menyarankan agar konselor belajar menggunakan “microskills” atau dengan keterampilan dasar yang ia istilahkan dengan “communication skill units”. Microskills dalam konseling anak-anak pada dasarnya sama dengan yang digunakan dalam konseling orang dewasa. Yang membedakan adalah bagaimana konselor mampu memasukkan keterampilan dasar itu pada setting dunia anak-anak. Konselor dalam kaitan ini harus mampu menyesuaikan proses konseling yang dilakukannya dengan karakteristik anak-anak, seperti kemampuan kognisi dan emosinya, keterbatasan bahasa yang dimiliki dan sebagainya. Jika hal ini deperhatikan, maka konselor akan mudah menjalin komunikasi dengan anak. Jika komunikasi lancar, maka konseling yang dilakukan pun akan lancar, dalam pengertian tidak mengalami hambatan dan bisa membantu anak dalam menemukan hidup seperti yang semestinya. a. Refleksi Content dan Feeling Dalam bagian ini, hal terpenting yang harus dilakukan konselor adalah bagaimana ia bisa membangun komunikasi dengan anak dalam rangka meyampaikan kesepahaman berkaitan dengan isi dan perasaan yang ada dalam diri anak. Untuk orang dewasa, sebanarnya hal ini bisa dilakukan dengan komunikasi verbal. Akan tetapi, karena anak mempunyai keterbatasan bahasa verbal untuk menyampaikan sesuatu, dan ia sering mengungkapkan perasaannya lewat aktivitas dan bermain, maka konselor harus bisa menggunakan sarana itu. Untuk membangun komunikasi dengan anak menurut Van Velsor (2004: 313) dapat dilakukan dengan cara mengikuti apa yang dilakukan anak, yang ia istilahkan dengan “behavioral tracking”. Dengan behavioral tracking, konselor mengikuti, bahkan bisa berpartisipasi dalam apa yang dilakukan anak. Dengan cara ini konselor bisa menggali apa yang sedang dirasakan anak, yang dalam kondisi normal mungkin ia sulit mengkomunikasikannya dengan orang dewasa. Dasar dari content atau isi yang akan digali konselor dalam melakukan konseling dengan anak-anak adalah emosi, yaitu bagaimana anak mampu mengungkapkan perasaan yang ada dalam dirinya. Hanya saja seringkali anak-anak kekurangan kosa kata untuk mampu mengungkapkan seluruh perasannya. Itulah sebabnya Kottman (Van Velsor (2004: 314) mengatakan bahwa bertanya atau meinta anak untuk mengungkapkan perasannya adalah sesuatu yang tak produktif. Sebagai gantinya, perasaan anak harus digali dengan bahasa non verbal, misalnya dengan mengaitkan dengan berbagai aktivitas atau sesuatu yang dilihatnya. Selain itu, konselor harus mempunyai kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, karena boleh jadi selain karena memang secara alamiah anak-anak sulit berkomunikasi secara penuh dengan komunikasi verbal, anak memang telah mendapatkan pesan atau pengajaran dari keluarganya untuk menyembunyikan perasannya. b. Refleksi Meaning, Interpretasi dan Penggunaan Metafora Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa dan konselor belum bisa menggali secara pas apa yang dikatakan oleh klien, maka konselor bisa meminta klien itu untuk mengulangi dengan memberikan pertanyaan yang sama. Akan tetapi ketika berkomunikasi dengan anak-anak dalam proses konseling, pertanyaan yang sama bisa membuat klien anak merasa enggan menjawab. Sebagaimana diungkapkan oleh Martin (Van Velsor: 2004) berdasarkan pegalamannya konseling dengan anak, bahwa ketika konselor menanyakan ulang pertanyaan yang sudah disampaikan, anak akan bertanya kembali mengapa konselor selalu bertanya berulang-ulang. Konselor yang mampu menggali dan memberikan arti komunikasi ketika melakukan konseling dengan orang dewasa akan dapat melakukan dengan hal yang sama ketika melakukan konseling dengan anak-anak jika ia mempunyai teknik yang tepat, baik melalui komunikasi verbal maupun lewat permainan. Dan tak kalah pentingnya dalam membangun komunikasi dengan anak-anak adalah keterampilan menggunakan metafora. Penggunaan metafora ini misalkan dengan mengasosiasikan maksud yang hendak digali dari dalam diri anak melalui mainan yang menjadi kesukaannya. Romig (Van Velsor: 2004) mengatakan bahwa metafora sangat membantu konselor dalam menghadapi problem komunikasi. Hal yang sama diungkapkan oleh Lyddon, Clay, & Sparks, (2001). Menurutnya penggunaan metafora adalah merupakan teknik sentral dalam pengembangan proses perubahan dalam konseling, termasuk di dalamnya untuk membangun hubungan dan mem-bypass resistensi klien, memfasilitasi kesadaran emosi dan ketidaksadaran keyakinan, dan meperkenalkan berbagai kemungkinan dan perspekstif baru. Kaitannya dengan anak-anak, mereka menyatakan metafora dalam bentuk permainan (Ablon,1996), cerita (Carlson & Arthur, 1999), atau melalui kegiatan menggambar, yang oleh Sims and Whynot (1997) disebut dengan istilah visual metaphors (Van Velsor: 2004: 314). Bahkan beberapa penulis mensejajarkan antara metafora dan hidup anak-anak dalam rangka menanamkan pengertian yang mendalam atas diri anak. Ketika anak sudah mampu menyatakan tentang dirinya dengan bebas melalui khayalan, Oaklander (1988) menyarankan agar konselor terus mengarahkan agar ungkapan melalui khayalan dan simbolik itu bisa mengarah kepada kenyataan, yaitu kenyataan hidup yang dialami anak. Dengan cara yang sama (Pardesk, 1990) menggambarkan penggunaan langkah ini dengan mengintegrasikan dengan cerita ketika anak menggambarkan dirinya dan orang lain lewat karakter dalam cerita itu, kemudian hal ini bisa dikembangkan untuk mendapatkan pengerti-an yang mendalam tentang masalah yang dihadapi anak. Ya atau tidaknya konselor menggunakan interpretasi meaning sangat ditentukan oleh orientasi teoritis yang dianut oleh konselor itu. Sebagai contoh, penganut teori person-centered menolak intrepretasi konselor, akan tetapi pengagun Adlerian mendukung interpretasi untuk mendapatkan pengertian yang mendalam atas diri klien. Dalam kaitan ini Van Velsor (2004: 314) setuju atas pendapat Brems (2001) yang menyatakan bahwa interpetasi memerlukan hubungan yang erat antara konselor dengan klien, terutama sekali ketika konselor bekerja dengan anak-anak. Itulah sebabnya konselor sangat dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang mendalam berkaitan dengan psikologi perkem-bangan anak. Dengan penguasaan yang mendalam tentang persoalan ini konselor akan mudah memahami apa yang digambarkan anak lewat cerita dan khayalannya, juga memudahkan konselor dalam menanamkan pengetahuan diri kepada anak. Hal ini akan sangat mendukung dalam proses konseling dengan anak. 4. Langkah-langkah Play Therapy Di samping memperhatikan keterampilan dasar melakukan konseling dengan anak harus memperhatikan prosesnya. Proses menandakan hubungan yang terjadi sepanjang kegiatan konseling berjalan, menyangkut di dalamnya upaya konselor dalam menyarankan berbagai perubahan, juga berkaitan cara konselor dalam membangun hubungan yang penuh dengan kepercayaan dari anak. Erdman dan Lampe (Van Veslor: 315) menyarankan beberapa jalan yang dapat dilakukan konselor dalam membangun hubungan dengan klien anak untuk mengenalkan berbagai perubahan atas diri anak, yaitu dengan membangun kepercayaan melalui aktive listening (mendengar-kan secara aktif) dan unconditional acceptance (penerimaan tanpa syarat), peromohan bantuan anak dan berkomunikasi dengan anak yang penuh dengan kesabaran. Fokus yang hendak dicapai dalam hal ini adalah terjadinya perubahan atas tingkah laku menyimpang anak, yang dapat membantu konselor dalam melihat pergerakan dan kemajuannya. Mengadakan perubahan dalan diri anak dimanifestasikan dalam konseling tingkah laku dan dapat dilihat dalam permainan anak selama konseling. Perhatian terhadap permainan anak dalam konseling datang dari tumbuhnya kepercayaan bahwa permainan adalah sesuatu yang ada dan merupakan jati diri anak, karenanya permainan itu merupakan proses atau cara yang paling esensial dalam konseling anak dibandingkan dengan proses konseling lainnya. Melalui media bermain seperti cat, tanah liat, pasir dan air anak-anak menyatakan dirinya secara kiasan dan simbolik. Itulah sebabnya, mengetahui langkah-langkah dan tema dalam konseling anak akan sangat membantu konselor dalam proses konseling yang ia lakukan. 1) Mengenal langkah-langkah konseling anak-anak Hal pokok yang harus disadari oleh para konselor, yaitu setting, struktur sesi atau pertemuan dan konselor itu sendiri harus disesuaikan dan menyesuaikan diri dengan dunia anak-anak. Sebagaimana langkah-langkah dalam konseling pada umumnya, dalam konseling anak pun kita mengenal tiga fase langkah yang ditempuh para konselor untuk berinteraksi konseling dengan anak., yaitu: a) Langkah Awal Dalam tahap awal ini, kegiatan utama adalah bagaimana membangun hubungan anak-konselor. Konselor harus mampu membangun hubungan yang hangat, yang di dalamnya ada kepercayaan anak terhadap konselor. Untuk itu, menurut Kottman (2001) konselor harus berusaha masuk secara total dalam dunia anak, sehingga anak betul-betul merasa aman dan menganggapnya sebagai sahabat (Van Veslor, 2004: 315). Langkah ini bisa dilakukan oleh konselor dengan menyediakan berbagai permainan yang digemari anak. Melalui fasilitas permainan ini konselor bisa mengajar anak-anak bermain dengan tujuan agar anak merasa aman. Ketika anak sudah merasa aman dalam menjalin hubungan dengan konselor, maka konselor bisa menyiapkan berbagai perangkat konseling dalam menggali berbagai gejala dan informasi yang ia butuhkan, yang ditunjukkan anak melalui berbagai aktivitas komunikasi dan interaksi, termasuk di dalamnya aktivitas bermain mereka. b) Langkah Pertengahan Langkah pertengahan dimulai ketika anak sudah asyik dengan permainan dan perhatian mereka. Konselor dapat memfasilitasi kegiatan ini dengan menyediakan berbagai sarana bermain agar anak dapat mengekspresikan berbagai perasa-an, baik sesuatu yang pernah dialaminya di masa lampau atau keinginan yang ia harapkan pada masa yang akan datang. Allan (1988) misalnya, menggambarkan pengalaman konse-lingnya dengan anak-anak, dimana ia sering menggunakan berbagai teknik permainan anak untuk menggali emosi anak, seperti meng-gambar. Melalui menggambar anak akan mengekspresikan suasana emosinya. Dari sini konselor dapat mengeksplorasi berbagai informasi yang dibutuhkan melalui upaya terlibat langsung dalam pekerjaan yang dilakukan anak. Sementara Muro dan Kottman (1995) mengusulkan teknik yang dapat digunakan pada fase ini dengan menggunakan “custom design”, yaitu terapi metaforis yang digunakan untuk mengadakan percakapan langsung dengan anak. Media yang digunakan adalah dengan membuat cerita dengan karakter pelaku cerita orang-orang yang ada dalam kehidupan anak, dengan permasalahan yang serupa dengan apa yang dialami anak. Pelaku cerita mempunyai persoalan, akan tetapi ia dengan cepat mengatasi masalahnya tersebut. Dengan cara ini konselor juga dapat membantu anak untuk mengembangkan kreativitasnya secara luas, seperti kemampuan bahasa, seni, gerak, drama dan dapat mengembangkan kemampuan emosi anak dalam menjalin hubungan dengan alam sekitarnya. c) Langkah Akhir Langkah akhir adalah suatu langkah dimana seorang konselor bisa mengakhiri proses konseling. Konselor bisa mengakhiri proses konseling dengan anak jika pada diri anak telah menunjukkan kemajuan dalam berbagai bentuk perilaku positif. Veslor (Van 2004: 316) mengemukakan berbagai pendapat yang mengisyarat-kan bahwa proses konseling boleh diakhiri. Moustakas (1997) menyebutkan bahwa proses konseling bisa dihentikan ketika anak sudah merasa cukup mampu manyatakan sesuatu secara nyata. Sementara Cokle & Allan (1996: 35) anak telah dapat menunjukkan kebutuhan minimalnya, secara simbolik mampu mengekspresikan emosinya dan secara lisan mampu mendiskusikan berbagai isu. Ditambah-kan oleh Nordling & Guerney, (1999) tanda-tanda konseling bisa dihentikan ketika anak telah mampu menunjukkan kreativitas dalam seni, mampu bermain peran, melakukan permainan yang melibatkan kerjasama dengan teman sebayanya, atau menampakkan perubahan perilaku positif lainnya. 2) Mengidentifikasi tema konseling anak-anak Perbedaan jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap pola dan tema permainan anak. Pernyataan ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Holmberg, Benedict, and Hynan (1998) terhadap dua orang anak laki-laki dan perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak harmonis, sering terjadi cek-cok antara suami istri dan berujung pada perceraian. Hasil penelitiannya menunjuk-kan bahwa anak laki-laki tersebut berkecenderungan menyukai permainan dengan tema agresi (kekerasan) dengan prosentase lebih besar ketimbang anak perempuan (Van Veslor, 2004: 316). Berikut tiga tema besar yang dapat digunakan dalam pendekatan konseling anak : a) Tema Agretion/Power Dalam kegiatan bermain anak, termasuk di dalamnya permainan dalam setting konseling, sebagian anak mempunyai kecenderungan untuk menyukai bentuk permainan agresif dan mengandalkan kekuatan. Bentuk-bentuk per-mainan dalam katagori ini, sebagaimana diungkapkan Nordling & Guerney (1999) adalah permainan yang melibatkan keaktifan anak, pelibatan energi tinggi, permainan gross motor dan permainan kata tegas (assertive verbalisation). Dalam praktiknya, konselor bisa mengajak anak untuk bermain dengan permainan-permainan seperti bermain tentara-tentaraan, memukul drum, melempar pasir, dan sebagainya. Fokusnya adalah bagaimana anak bisa menyalurkan energinya yang tinggi untuk dijadikan sebagai sarana menyatakan emosinya yang tertekan. b) Tema Family/Nurturance Anak-anak juga mempunyai kecenderungan untuk menyukai permainan yang bertemakan keluarga atau kepengasuhan. Konselor bisa menggunakan boneka, figur binatang dan figur khayalan dalam permainan drama. Dalam penelitian yang dilakukannya terhadap lima orang anak, Grubbs (1995) mendapatkan bahwa dengan menggunakan permainan boneka dan peralatan rumah tangga lain di bak pasir, anak dapat menyatakan situasi keluarga dan beberapa kesulitan yang dihadapinya. c) Tema Safety/Scurity Permainan dengan tema keselamatan dan keamanan difokuskan pada upaya anak untuk menghadirkan figur karakter yang menyelamat-kan dan menjaga keamanan. Mungkin anak bisa bermain dengan membuat sangkar binatang, kemudian dia menyembunyikan figur yang berbahaya yang mengancam keselamatan binatang piaraannya itu (seperti monster), kemudian dia menghadirkan figur penyelamat (pahlawan) yang bisa menghindarkan ancaman. Pahlawan di sini bisa dimainkan oleh dirinya sendiri, atau figur lain yang menjadi idolanya. (Van Veslor, 2004: 317). 5. Petunjuk Praktis dalam Melakukan Konseling dengan Klien Anak-anak Untuk memudahkan para konselor pemula atau guru di lingkungan pendidikan anak usia dini (Play Group, Taman Kanak-kanak) dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada anak-anak, berikut diberikan beberapa petunjuk praktis yang bisa dilakukan dalam proses konseling dengan klien anak-anak. Secara keseluruhan, proses konseling yang bisa dilakukan dengan beberapa langkah operasional sebagai berikut: Langkah Awal Langkah awal ini adalah sebuah sebuah pertemuan yang diasumsikan sebagai pertemuan pertama antara konselor dan anak. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun keakraban dengan anak (attanding). Tujuan akhir dari langkah awal ini adalah anak merasa aman ketika bersama konselor. Konselor tidak lagi dianggap sebagai sosok yang membawa ancaman, sebaliknya konselor telah dianggap sebagai individu yang menyenangkan, melindungi dan bersahabat dengan anak. Karena keterbatasan bahasa verbal yang dimiliki oleh anak, maka permainan adalah bahasa simbolik yang tepat. Berikut ini langkah praktis yang dapat dilakukan: 1. Sebelum memulai konseling, berdiskusilah terlebih dahulu dengan orang tua, pembantu/ pengasuh dan pihak-pihak lain yang mempunyai kedekatan emosional dengan anak untuk mendapatkan beberapa informasi yang terkait dengan karakteristik anak. 2. Disarankan konselor anak memiliki ruangan khusus yang didesain sebagai kamar bermain dan memenuhi standar keamanan bagi anak-anak. 3. Pilihlah mainan yang disukai oleh anak (anda bisa bertanya terlebih dahulu dengan anak tersebut terkait dengan mainan apa yang dia sukai). 4. Ajaklah anak tersebut bermainan (anda harus proaktif dan menunjukkan kesan sungguh-sungguh). 5. Lakukan dialog dengan tujuan utamanya adalah “menarik” anak agar mempunyai kedekatan emosional dengan anda. 6. Berupayalah agar anda bisa dianggap oleh anak sebagai “sahabat” yang menyenangkan, sebagai “tempat” untuk berlindung bagi mereka. 7. Ketika anda sudah merasakan bahwa klien anda sudah “dekat” dengan anda, maka anda dapat melanjutkan pada fase berikutnya, yaitu mengeplorasi perasaan dan persoalan yang sedang dihadapi oleh anak (diagnosis). Langkah Petengahan 1. Gunakan permainan yang memungkinkan anda untuk banyak berdialog dengan anak (anda bisa menggunakan area bermain pasir, air, playdoch, menggambar, lucy (permainan bongkar pasang lainnya), boneka tangan dan sebagainya. 2. Tentukan pilihan permainan dengan melibatkan klien anda (anda boleh menawarkan, di antara permainan yang ada, klien anda memilih yang mana). 3. sambil anda bermain bersama klien anda, sampaikan beberapa pertanyaan yang kira-kira bisa mengungkap perasaan apa yang sedang dirasakan klien anda (gunakan referensi dari hasil diskusi dengan orang tua anak atau pengasuhnya sebagai pemandu pertanyaan supaya cepat fokus). 4. Buatlah catatan-catatan hasil dialog anda dengan anak untuk dijadikan sebagai alat untuk mengidentifikasi apa kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak, persoalan yang dialami anak (bandingkan dengan catatan hasil diskusi anda dengan orang tua dan pengasuh anak). 5. Setelah anda mengidentifikasi masalah yang dialami anak, anda dapat masuk pada fase berikutnya, yaitu mengatasi masalah. Langkah Akhir 1. Berdasarkan catatan diagnosis anda, pilihlan permainan yang dapat memberikan stimulasi secara maksimal atas bidang perkembangan yang terhambat (masalah) anak. 2. Dampingilah klien anda saat bermain dengan terus memberikan berbagai stimulasi dengan mengajukan berbagai perntayaan exploratif. 3. Anda dapat melibatkan orang tua atau pengasuh anak untuk membiasakanmereka bagaimana teknik yang tepat mendamingi anak bermain. 4. ketika anak sudah mulai menampakkan perubahan ke arah positif, anda dapat mengakhiri permainan dengan membuat janji untuk mengikuti sesi bermain (terapi) berikutnya. 5. Jangan lupa anda berpesan kepada orang tua/pengasuh anak untuk selalu memberikan permainan yang serupa kepada anak tersebut, dan agar orang tua/pengasuh terus mendampingi ketika anak bermain dengan cara memberikan berbagai stimulasi yang sudah anda contohkan. (Akan lebih baik jika anda memberikan traning singkat kepada orang tua/pengasuh terkait dengan keteram-pilan pendampingan anak bermain). 6. Untuk mengakhiri sesi bermainan (terapi), kondisi situasi emosi anak agar mempunyai keterkaitan untuk datang lain ke tempat praktek anda. Tindak lanjut 1. Berpesan kepada orang tua untuk memberikan perhatian kepada anak dengan cara mendampingi aktivitas bermain harian anak. 2. Buatlah kesan yang mendalam agar anak merindukan kebersamaannya dengan anda. 3. Ulangi sesi berikutnya dengan permainan yang berbeda, tetapi memberikan stimulasi pada wilayah perkembangan yang sama (sesuai dengan masalah anak). Oleh: M. Edi Kurnanto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar